cerita pendek

Ketika sore tiba, aku selalu bergegas mengambil sepeda dan mengayuhnya dengan cepat. Lelah akan terasa ketika aku berhenti tepat di depan rumahnya. Aku tidak perlu mengetuk pintu atau memanggilnya untuk keluar. Karena dia selalu siap berada di depan pagar rumah dengan sepeda ungunya.
Biasanya jika aku sudah terlihat dari kejauhan, dia akan berteriak memanggil namaku dengan kencang sambil melambaikan tangan dengan ceria. Kemudian dia akan tertawa ketika melihatku berhenti dengan wajah lelah. Aku seringkali bertanya mengapa dia tertawa, dan dia selalu menjawab dengan alasan karena ekspresiku yang menurutnya terlihat lucu. Akhirnya aku pun juga ikut tertawa.
Setiap sore, aku memang selalu mengajaknya untuk bermain sepeda. Dia juga selalu senang jika aku mengajaknya. Kami berdua sering menghabiskan waktu untuk berkeliling di taman. Setelah itu kami akan duduk di kursi kayu di bawah pohon besar dekat kolam kecil yang tidak ada ikannya untuk sekedar istirahat dan melihat pemandangan taman yang begitu indah.
Di bawah pohon besar itu, dia selalu bercerita tentang dirinya saat masih tinggal di Kalimantan sebelum pindah ke Kota Bandung. Aku senang mendengarkan semua ceritanya. Dia akan meneruskan ceritanya dengan semangat jika aku sedikit menanggapi dengan penasaran. Jika dia selesai bercerita, selanjutnya dia akan memaksaku untuk bercerita apa saja. Biasanya aku akan menolak dengan alasan waktu sudah hampir senja dan saatnya kami untuk pulang.
Sebelum pulang, dia tidak pernah lupa untuk mengajak ku melihat sebuah tulisan yang pernah dia pahat di batang pohon besar tempat kami berteduh itu. “Dinda dan Dicky”, kemudian di bawahnya ada tulisan kecil “Sahabat Selamanya”. Pahatannya sangat rapi dan terlihat jelas. Aku selalu memperhatikan tulisan itu dengan kagum walaupun hampir setiap hari aku melihatnya. Kemudian, kami akan saling bertatapan dan akhirnya tersenyum.
Begitulah kenangan semasa kecil bersama sahabat sejatiku saat kami selalu bersama, hingga takdir memisahkan kami berdua. Aku selalu mengingatnya ketika aku merasa rindu pada sosok Dinda yang selalu ceria. Aku merasa senang jika berada di dekatnya. Sejak kehadirannya di masa kecilku hingga kami dewasa, hidupku terasa selalu bahagia.
Walaupun Dinda sekarang tidak lagi di sisiku, kenangan bersamanya cukup membuatku bisa tersenyum lagi di masa tua seperti senyumku dulu bersamanya. Karangan bunga yang indah ini kuletakkan di atas makamnya dengan do’a dan harapan agar Dinda tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakan dirinya sampai kami dipertemukan lagi untuk bisa bersama di tempat yang indah seperti tempat kami bermain dulu.

Google+ Followers